Jumat, 29 Maret 2013

Florsheim Info : Vandy's Grand Tournament 2013 Report Part Three


Hi guys,

Thanks buat semua like kalian di fanpage. Itu sungguh berarti bagi gue demi motivasi. Komentar kalian disini juga pengaruh lho! Awalnya gue kira akan cukup lama sampai mendapat 100 like, ternyata hanya perlu tepat satu jam! Gue terlalu meng-underestimate kekuatan para liker Florsheim sepertinya.


Bagi yang belum baca Part One-nya: Vandy's Grand Tournament 2013 Report Part One.
Bagi yang belum baca Part Two-nya: Vandy's Grand Tournament 2013 Report Part Two.

Well, sebelum masuk ke cerita, mau share sedikit. Kalian merasa tidak pernah mendapat status kami di newsfeed kalian? Atau jarang? Ini cara agar kalian tetap up to date dengan berita terbaru di dunia TCG:


Pergi ke fanpage kami di link berikut, lalu klik tanda "Disukai" atau "Liked" lalu centang "Dapatkan Pemberitahuan" atau "Get Notification".

Dengan cara ini tidak ada lagi kelewatan berita penting dari dunia TCG!

Round Four


Di sela ronde ketiga dan keempat, pacar datang mengunjungi gue. Ceritanya ia ingin mengambil barang di gue, lalu cabut lagi mengurusi yang lainnya. Kalau ada yang lihat gue bawa-bawa kain selama turnamen, ya itu lah barangnya. Hanya saja, ternyata barang yang gue bawa kurang lengkap gara-gara gue lupa. Maklum duelist, pikiran dihuni sama rencana turnamen dan kombo-kombo.

Hal itu menyebabkan si pacar marah, karena itu bikin dia mesti mondar-mandir, ambil barang dulu ke rumah gue. Kami pun ngobrol dulu di luar, mencoba cari solusi. Akhirnya setelah ketemu solusinya, gue mengantar dia pulang lewat lift. Begitu dia masuk lift, gue blingsatan masuk ke dalam, berhubung pertandingan telah dimulai beberapa menit lalu.

Tanpa melihat pairing dulu, gue langsung mendatangi table atas, mencari bangku kosong. Gue kaget, tidak ada bangku kosong! Lha terus gue duduk dimana? Beberapa orang melihat ke arah gue yang bingung, begitu sang judge paman Andre melihat ke arah gue, baru deh dia nyadar, berdiri dari kursi yang semestinya gue tempati, lalu mempersilakan gue duduk. Dasar paman, lol. Ia melihat jam, dan membiarkan gue bermain tanpa kena Game Loss.

Lawan gue kali ini adalah Ray. Selama ini, gue mengenal Ray gemar menggunakan deck Burn. Ya Tuhan, dari semua deck di dunia ini, kenapa gue harus melawan deck Burn. Mana di Main dan Side Deck gue tidak ada anti-Burn pula.

Gue jalan kedua, ia set satu depan satu belakang. Gue sudah malas main, jangan-jangan Marshmallon ini.. Gue synch Bureido-Haipa. Haipa serang, ternyata Abysslinde! Begitu tahu lawan gue Mermail dan bukan Burn, semangat gue naik. Soalnya di mata gue, Dark World sama Burn level menyebalkannya nggak jauh beda.

Ia special summon Abysspike, gue tabok, lalu draw di end Battle Phase. Next turn ia menggila. Special Summon macam-macam, lalu Xyz Big Eye, Normal Summon Abysslinde, nabok. Keadaan menjadi kritis buat gue, karena kalau gue gagal menghandle fieldnya, bisa dipastikan gue kalah next turn. Ia lalu set dua kartu belakang dan end.

Hand gue tidak bagus, hampir semua adalah Karakuri. Ini artinya satu-satunya penyelesaian masalah adalah Black Rose. Gue bisa saja summon Ninishi dan Kuick, lalu synchro. Hanya saja dia masih punya Abysslinde yang akan mensummon lainnya. Gue memutuskan untuk ambil resiko, gue summon hanya Kuick. Ia berpikir sejenak. Lalu membiarkannya. Kuick menyerang Abysslinde, menghidupkan Nishipachi, Ray sp summon Abyssmegalo.

Main Phase kedua, gue synchro keduanya menjadi Black Rose Dragon! Sayang Ray tersenyum licik dan membuka Solemn Judgment! Karena tidak ada lagi yang bisa gue lakukan, gue pun menyerah. Kekalahan pertama hari itu.

Game kedua, gue duluan. Kesempatan ini tidak gue sia-siakan. Gue menggila mengeluarkan Bureido-Bureido-Nishipachi lalu set 3 belakang. Begitu dia draw, gue buka Macro Cosmos. Ray berpikir dan mempertimbangkan berbagai hal. Namun tidak lama kemudian, ia menyerah untuk lanjut ke game 3.


Game ketiga mirip dengan game pertama. Ia mulai dengan set satu depan satu belakang. Gue juga sama, synch Bureido-Haipa. Ia keluarkan Abysspike buang Dragoon mencari Abyssgunde dan Abyssmegalo. Next turn, ia memanggil Abyssmegalo membuang Abyssgunde dan Abyssleed. Gue chain Maxx "C". Ia tetap summon Abyssleed sehingga gue draw dua Mind Crush, sungguh kartu sampah untuk keadaan seperti ini. Ia pakai efek Abyssleed untuk cabut satu hand gue, kemudian sama seperti sebelumnya, ia Xyz Big Eye, gue draw lagi. Dia ambil Haipa dan menabok, set dua dan end.

Gue hanya bisa mengehela nafas. Field ini sama seperti game satu. Gue hampir habis harapan, hingga ternyata dari belakang sang pacar datang. Ia tidak jadi pulang dulu dan kembali membawa Bubble Tea yang gue sukai untuk menyemangati gue, which is Share Tea Cocoa Rock Salt and Cheese. (Promosi gratis nih XD). Berkat kehadirannya, gue kembali semangat dan draw untuk turn itu, Monster Reborn!

Giliran gue, gue mempertimbangkan berbagai skenario. Gue memutuskan untuk kembali mencoba Black Rose Dragon dengan Monster Reborn sebagai backup jika digagalkan seperti tadi. Begitu gue synch Black Rose Dragon, ternyata tidak ada apa-apa! Ray hanya mengechain satu Abyss-sphere mengambil Abysslinde dan special summon Abysspike yang mencari Abyssgunde. Gue Monster Reborn Bureido gue, lalu set 2 Mind Crush.

Di Draw Phase Ray, gue aktifkan Mind Crush sebut Mermail Abyssgunde. Ray menunjukkan hand-nya yang berisi Abyssmegalo dan Deep Sea Diva. Tanpa menunggu lama, gue langsung buka Mind Crush kedua menyebut Deep Sea Diva meninggalkan ia hanya punya Abyssmegalo! Pacar gue pun memuji gue setelah tahu kalau gue senang atas play gue barusan, meski dia sebenarnya tidak tahu apa-apa. Berkat itu, gue semakin semangat dan draw keajaiban berikutnya, Solemn Judgment! Gue summon Psychic Commander untuk nabok 4200 bersama Bureido, lalu mengajak salaman dengan menunjukkan Solemn Judgment setelah ia draw.

Skor masih sempurna, yeah!

Dean terpaksa melawan anak Bandung, Rheza yang memakai deck Prophecy. Ia berhasil menang dengan mudahnya berkat Naturia Beast. Jhovie hampir menang melawan deck Dark World, namun sayang waktu membuatnya harus kalah. Septiyan akhirnya menemukan lawan yang selama ini ia harapkan, Mermail, dan bisa menang mudah juga. Andry melawan deck Six Samurai dan bisa menang berkat kartu Tech-nya, Jinzo. Alvi? Entahlah, yang pasti dia kalah ronde ini.

Round Five


Waktu di antara ronde empat dan lima ini gue habiskan untuk ngobrol sama pacar. Well sebagai seorang duelist yang baik, harus bisa membagi waktu antara duel dan pacar dong ya.

Di ronde kelima ini gue melawan seorang duelist penyabar yang sangat baik. Namanya Iv dan ia adalah pengguna deck Chaos Dragon. Di game pertama, gue duluan dan ia dengan sabarnya menunggu gue berakrobat Bureido-Bureido-Nishipachi. Lalu di giliran dia, ia hanya mengaktifkan Charge of the Light Brigade mencari Lyla, lalu summon Card Trooper dan serang Nishipachi, membuat gue draw dua.

Giliran berikutnya, ia kembali lagi menunjukkan kesabarannya dengan menyaksikan gue synch Burei dan Landoise. Saat semua menyerang, ia menunjukkan Gorz dan gue membuang Spell untuk menegatenya.

Game kedua, dia summon Card Trooper, mill, lalu set satu. Gue Night Beam lah, lalu synch Bureido-Haipa. Disini gue melakukan kesalahan, karena gue kira handnya hanya 4, gue menyerang dengan Bureido duluan, lupa kalau Trooper punya efek draw. Untungnya saat damage masuk, lawan tidak mensummon Tragoedia. Haipa menyerang langsung, barulah ia Tragoedia. Oops. Hampir saja gue yang ajur, soalnya Haipa mau tidak mau harus menyerang. Kalau saat Bureido masuk dia summon Tragoedia Attack Position, maka Haipa pasti hancur.

Giliran berikutnya, ia mengambil Haipa gue memakai efek Tragoedia dan Mind Control ke Bureido untuk draw. Ia lalu mengaduh, sadar telah melakukan kesalahan. Ternyata ia memiliki Light and Darkness Dragon di hand yang bisa dipakai untuk ambil Bureido daripada Haipa. Ia lalu hanya menyerang dan Xyz Maestroke di Main Phase dua, mengembalikan Bureido gue. Disini ia kembali mempraktekkan ilmu sabar saat melihat gue synch Burei-Burei-Big Eye-dst untuk OTK.

Sungguh sabar orang ini ya. Oom Iv pasti disayang Tuhan :-)

Di meja lain, Dean melawan deck Mermail dan berhasil menang berkat Gateway yang di-draw di akhir, tipis sebelum waktu selesai. Jhovie terpaksa kalah saat Sudden Death melawan deck Burn. Septiyan melawan deck Mermail lagi, namun menang mudah karena memang sudah diantikan. Andry melawan deck Noble Knights (!) dan menang mudah berkat lawannya tidak menggunakan banyak Trap. Dan Alvi... tidak tahu. Pokoknya dia kalah lagi ronde ini.

Round Six


Di fase ini yang menggondol skor 5-0 hanyalah gue dan Sundoro sang pangeran kegelapan. Jujur saja, gue sangat-sangat malas melawan deck Dark World-nya dan ingin menyerah saja, wong sudah pasti lolos Top 16 ini. Namun demi kalian semua para pembaca, akhirnya gue paksakan bermain agar ada reportnya.

Game pertama, ia duluan, tanpa ba bi bu set semua, summon Snoww dan pakai Dragged Down. Ia mencabut satu-satunya Non-Tuner gue, membiarkan Heavy Storm di hand, sedangkan ia sendiri membuang Grapha yang langsung dipanggil. Giliran gue, rasanya mau tidak mau gue harus menggunakan Heavy. Kalau Heavy berhasil, gue bisa menang, kalau tidak, ya sama saja, gue pasti kalah. Eh ternyata disambut oleh Starlight Road.

Gue lalu summon Bureido yang di-Bottomless dan memanggil Ninishi untuk memanggil Ninishi lagi dari hand menjadi Zenmaines. Zenmaines menabrakkan diri untuk menghancurkan field. Zenmaines dikeroyok, dan next turn drawnya tidak membantu gue synchro. Ya sudah, next game.

Game kedua, hand busuk tidak ada Tuner ataupun kartu siding. Gue hanya bisa lepas field kosongan, berharap dari draw. Ternyata ia set beberapa lalu Card Destruction, akrobat sedikit, lalu menyerang gue dengan dua Grapha. Untung ada Gorz yang ditabrak Grapha keduanya. Giliran gue, gue Reborn Graphanya, tabrak token dengan Graphanya lalu serang direct. Gue set banyak. Di gilirannya ia mengaktifkan efek field lalu gue chain Macro Cosmos, sayang ia langsung negate dengan Solemn Judgment.

Ia summon Tour Guide menjadi Leviair, panggil Snoww. Grapha saling menabrak, dan sisanya direct. Set dua belakang, end. Gue desperate, gue lalu synch Bureido-Burei-Stardust dengan semangat YOLO. Eh ternyata di belakang tidak ada apa-apa. Menang deh, padahal tadi gue kira bakalan kalah karena gap advantagenya jauh banget.


Game ketiga. Dia duluan. Hand jelek, akhirnya dia cabut kartu terbaik, Monster Reborn. Gue summon langsung kena Warning. Lalu mati next turn setelah ia aktifkan beberapa Reckless Greed sekaligus sebelum gue bisa synchro apa-apa.

Well, kalau digunakan langsung sama ahlinya, memang beda ya feel dari Dark World. Kebetulan kartu anti gue nggak keluar karena memang hanya Macro Cosmos. Coba tadi gue bukannya masukin Smashing Ground tapi masukin Gemini Imps aja. Kan lumayan.

Tapi ya no hard feeling, selain perasaan sebal sewaktu hand diintip-intip lalu dicabuti, dan sewaktu lawan special summon Grapha. Sebal level sembilan-sembilan.

Dean melawan Burn yang mengalahkan Jhovie game sebelumnya, yang bisa ia handle menggunakan Shien dan Barkion. Dendam terbalaskan! Jhovie sendiri melawan deck Fire Fist dan bisa menang berkat dukungan waktu. Septiyan kembali melawan deck kesukaannya, Mermail dan berhasil menang ketika Sudden Death. Andry melawan Chaos Dragon, sempat hampir menang namun Dark Armed Dragon membalikkan keadaan. Alvi, entahlah, pokoknya dia menang.

Dari semua game ini, yang bisa lolos Top 16 hanyalah gue, Dean, dan Septiyan karena Andry, Alvi, serta Jhovie skornya hanya 3-3. Setelah diumumkan, ternyata Septiyan memegang posisi ke-17. Sungguh sayang Sep. Yang sabar ya, kayak oom Iv tadi.

Enam kaijin maju, namun hanya dua yang lolos. Ini merupakan kemunduran dibanding tahun lalu. Bisa dimaklumi, semua ini memang karena kami terlalu fokus pada Nationals dan memang cukup jarang berlatih dengan deck yang akan digunakan. Jhovie lebih banyak berlatih Frog Monarch (yang langsung "tuhkan tuhkan" sewaktu tahu di YCS Austin ada Frog Monarch lolos Top 4), Alvi lebih banyak berlatih deck Prophecy pasca-Tachyon, Andry juga latihannya lebih ke Fire Fist pasca-Tachyon, dan Septiyan... entahlah apa yang dia pikirkan.. Orangnya memang misterius.

Well, lolos ke Top 16 bukan berarti perjuangan selesai, justru perjuangan akan dimulai dengan lebih berat karena disini sudah tidak ada lagi ampun bagi pihak yang kalah. Gue dan Dean saat itu melihat kaijin Florsheim lainnya, dan dibalas dengan tatapan yang seakan berkata, "Kami percaya pada kalian. Teruskan perjuangan kami!"

Tentu saja guys. Itu pasti!


Bersambung...

NEXT: Big Eye kedua dikeluarkan!? Sebegitu terdesaknya kah? Dan seriously, apa? APA DOSA GUE SAMPAI HARUS MELAWAN DARK WORLD LAGI!??

2 komentar:

kok sekarang ga ada fitur comment via fb?

@Anonim
ada kok.. kalo ga nge-load, berarti koneksi Anda.. yang laen pada comment via FB soalnya

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More