Kamis, 16 Januari 2014

Florsheim Story Chapter Two : Gunthur yang Mengejutkan - Part Three


Bagian sebelumnya: Field Yudi dibersihkan oleh efek Thunder Spark Dragon dan nyawanya juga di ujung tanduk setelah diserang oleh monster Gunthur. Apakah Yudi bisa membalikkan keadaan?

Suasana sore itu masih sangat kelam. Gemuruh petir mulai teredam, digantikan oleh derasnya suara hujan turun. Hujan tanpa henti itu seakan menggambarkan perasaan gue saat ini: putus asa.

Life Point gue dan Gunthur terpaut jauh, gue kritis kena 6600 damage sisa 1400 saja, dan Gunthur Masih Aman™ di 6600 Life Point. Apalagi fieldnya sekarang berisi 1 Stardust Spark Dragon yang ter-equip Vylon Prism, 1 Number 91: Thunder Spark Dragon dan hand-nya masih 4 kartu. Bagaimana cara gue bisa menyusulnya?

"Main Phase 2 ya mas" sahut Gunthur membuyarkan kebengongan gue, "Aku aktifkan Recycling Batteries lagi untuk mengambil Pahunder dan Mahunder dari Graveyard ke hand. Aku selesai mas." 

Hand Gunthur pun naik lagi jadi 5 kartu. Makin desperate dah gue. Gue melihat ke arah Gunthur. Sekilas gue bisa melihat senyuman kemenangannya... 

Oh! Gue tahu kenapa... Giliran berikutnya dia hanya perlu mensummon Pahunder lalu Mahunder atau Thunder lain untuk Xyz Starliege Paladynamo untuk menghabisi nyawa gue.

Sigh. Ini giliran terakhir gue kah?

Gue melirik ke arah hand gue yang tinggal 3. Kartu random yang tidak berguna semua di keadaan ini. Gue nggak tahu harus berharap apa dari top deck untuk menang. Kalau saja, gue bisa mensummon kartu yang di hand gue ini mungkin gue punya harapan.

...

......

Tidak boleh! Gue tidak boleh menyerah!!

Seorang Agnaprabu pantang menyerah seperti ini. Gue pernah mengalami yang lebih buruk dan gue tahu gue bisa mencari jalan!

Gue menoleh ke arah deck gue. Gue percaya, kau bisa memberiku jawaban hai partner!

"Giliranku! Draw!! Standby Phase, Garunix efek. Bangkit dan hancurkan semua!" teriak gue.

"Efek Stardust Spark Dragon lindungi dirinya sendiri!" sahut Gunthur sambil menaruh Thunder Spark Dragon ke Graveyard.

Gue melihat kartu yang baru saja gue draw. Coach Soldier Wolfbark! Hmm, gue melihat Graveyard. Ada Fire King Avatar Yaksha yang bisa dihidupkan. Gue bisa Xyz Summon Diamond Dire Wolf dan menghancurkan Stardust Spark! YES!


...

Tunggu. Tunggu tunggu. Tunggu...

Kalau gue summon Dire Wolf atau Maestroke, maka giliran berikutnya dia tinggal perlu memanggil Paladynamo untuk membunuh gue. Gue mesti putar otak untuk menang turn ini, atau setidaknya menghalangi itu terjadi.

Gue melihat hand gue sisanya. Gue menyisir Extra Deck gue. Gue membongkar isi Graveyard gue.

Aaaargh! Apa yang harus kulakukaaan!!

"Mas? Gimana?" ingat Gunthur yang sudah cukup sabar menungguku berpikir dan mengubek-ubek kartu.

"Hehe, sebentar ya. Masih mikir Thur." nyengir gue.

Eh, iya. Sepertinya gue bisa maksain summon kartu di tanganku ini. Ah!

"Oke Thur, summon Wolfbark. Efek oke?"

"Monggo mas, aku nggak ada Trap." Iya juga. Gue lihat backrownya kosong, hanya isi Vylon Prism. Hmm, kesempatan.

"Hidupkan Yaksha. Wolfbark dan Yaksha kutumpuk, Xyz Summon Lavalval Chain! Aktifkan efek!"

"Efek yang mana mas?" tanya Gunthur.

"Yang buang kartu Thur. Detach Yaksha, aku buang kartu andalanku! Flamvell Baby!"

"...Flamvell Baby...?" ujar Gunthur bingung.

"J-jangan salah kira! Dia sering membuatku menang lho! Seperti sekarang, hehe." Rasa percaya diri gue naik lagi. Gue tahu kalau Flamvell Baby ada di sisi gue, kemenangan bisa gue raih!

"Oh ya? Coba tunjukkan mas," tantang Gunthur tidak percaya.

"Aku aktifkan Circle of the Fire Kings dari tangan! Hancurkan Lavalval Chain dan panggil Flamvell Baby ke field! Synchro Summon, kujadikan Flamvell Baby dan Garunix sebagai material, turunlah! Giganticastle!!"

"Kayake masih lebih gede Stardust Spark-ku mas," ejeknya.

"Hehe, belum selesai. Lihat ini Thur. Jiwa yang terbakar semangat! Bersatu dan berkumpullah menjadi bara abadi! Kupanggil sang dewa elemen api, Pyrorex the Elemental Lord!"

"Wooow!"


"Iya di Graveyard-ku ada tepat 5 FIRE. Yaksha, Wolfbark, Lavalval Chain, Flamvell Baby dan Garunix jadi aku bisa memanggilnya! Efek Pyrorex, hancurkan Stardust Spark dan tembak 1250 damage ke kita berdua!"

Life Point gue semakin kritis. Sekarang hanya sisa 150 versus Gunthur sisa 5350. Bedanya, di field gue ada dewa api ber-ATK 2800 dan Giganticastle ber-ATK 3100 yang belum menyerang sedangkan di fieldnya bersih putih, bahkan Spell atau Trap pun tidak ada.

Gue tersenyum penuh kemenangan. "Pyrorex dan Giganticastle seraaang! Habisi Life Pointnya!"

"Aaargh! Hahaha. Mas Yudi ini jago sekali, hehe. Aku kalah." tawa Gunthur. Gue bisa lihat dia menikmati duel kita ini.

"Hehe, cuma hoki kok Thur. Tadi aku sudah putus asa lho monstermu guede buanget," ucap gue medok, sepertinya gue tertular si Gunthur. Waduh.

"Hahaha, tadi tak kira aku sudah menang lho. Next turn aku tinggal summon Pahunder sama Vylon Prism jadi Avenged Knight Parshath terus nusbol." candanya.

"Oh iya ya... hahaha..." OMG, ternyata ada juga cara itu. Kalah mengenaskan kalau sampai kena tusbol Avenged Knight mah...

Asyik berduel membuat gue dan Gunthur jadi tidak sadar sekeliling. Ternyata hujan sudah reda, digantikan oleh suara cuit burung dan tetesan air yang mendamaikan. Langit biru pun sedikit demi sedikit menyeruak menggantikan mendung hitam yang dari tadi mendominasi. Beberapa rekan duelist juga sudah terlihat bermain dan bercengkrama di sekitar.

"Mas Yudi, aku pamit ya mas. Itu keluargaku sudah menjemput. Dadaaah" kata Gunthur sambil melambaikan tangan. Ia pun berlari ke arah keluarganya. 

Wogh, keluarganya nyentrik abis. Mereka berambut pirang dan njegrak semua rambutnya. Bapaknya, ibunya dan kakak perempuannya sama. Gunthur saja yang beda sendiri. Jangan-jangan Gunthur itu...

Tapi... wajahnya Gunthur mirip sekali kok sama mereka, cuma beda di rambut. Oh gue tau, mereka adalah Pakgunthur, Makgunthur dan Sisgunthur, hahaha.

Well, sampai bertemu lagi lain kali Thur. Senang bermain denganmu.



Dari dalam toko terdengar sayup-sayup suara kak Moja Florsheim mengajak tiap duelist untuk ikut turnamen mingguan.

"Yuud! Ikut turney nggak?" teriaknya padaku dari dalam toko.

"Ikuutlaaaaah!" sahutku bersemangat.


Chapter 2 Tamat.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More