Minggu, 16 Oktober 2011

Florsheim Story Chapter One : The First Day - Part 3


Akhirnya!

Setelah salah naik angkot dan sempat tersasar barusan, gue merasa ini adalah salah satu pencapaian tertinggi yang bisa umat manusia lakukan. Susah banget menemukan tempat ini!

Gue sudah sampai di depan Rangga Point, semacam cluster pertokoan yang diisi banyak distro, butik, dan toko barang-barang cewek. Pokoknya bukan gue banget.

Gue celingukan, takut ada yang memergoki gue. Bisa hancur reputasi gue sebagai lelaki sejati kalo ketauan pergi ke daerah butik kayak begini. Tapi katanya Hobbies ada di sisi agak dalam, jadi gue mau nggak mau memberanikan diri untuk masuk.

Gue masuk melalui sebuah lorong kecil yang di kanan dan kirinya merupakan toko pernak-pernik. Ternyata sisi dalamnya cukup luas dan tepat di depan gue ada toko dengan poster-poster Magic the Gathering serta World of Warcraft. Yeah, itu dia Hobbies yang gue cari-cari!

Jantung gue berdegup kencang saat berdiri di depan Hobbies. Campuran antara perasaan bersemangat akan bertemu dan berduel duelist-duelist baru dan perasaan takut gue nggak diterima disini. Gue menutup mata, mencoba rileks. Menarik napas panjang, keluarkan, lalu maju tanpa rasa takut.

Dan gue kejedug dengan keras, gara-gara lupa buka mata, dan yang paling penting, lupa buka pintunya.


"Kenapa dek?" tanya mbak-mbak penjaga Hobbies dari dalam sambil sedikit tertawa.

"Nggak apa-apa mbak, ini pintunya nakal, padahal saya nggak salah apa-apa" Ringis gue saat masuk sambil mengusap benjol di kepala gue.

Hobbies ternyata lebih kecil dari yang gue kira. Di kiri gue, ada tumpukan dus-dus berisi kartu, counter yang penuh produk, dan etalase kaca berisi pak-pak besar Magic dan WoW. Lalu di kanan gue, ada tiga meja panjang dengan empat kursi di masing-masing meja. Ada satu lelaki di meja ujung yang sedang duduk menyortir kartu yugioh dari beberapa dus kartu di sampingnya.

"Hihihi, cari apa dek? Magic? Wow? Yugi?"

"Yugi mbak, masih baru main nih."

"Udah punya deck? Itu ada yang main Yugi juga, kebetulan pas lagi sendirian." Simbak menoleh ke arah pria yang di ujung, "Uta, ini ada anak baru! Ajak main gih!"

"Oh" Pria itu menoleh ke arah gue, "Sini-sini." Ia lalu membereskan kartu yang ia pegang dan memasukkannya ke dalam dus.

"Yudi kak." gue menyodorkan tangan.

"Aku Uta," sambutnya, "Baru pertama kali ke sini?"

"Iya kak, ini hari pertama di Bandung. Kakak sendirian aja?" sahutku senang. Ternyata duelist Bandung baik dan ramah, tidak seperti gosip miring kalau mereka sangat hobi membuli.

"Hmm..," ujarnya sambil menempelkan tangan di dagu, "Masih sepi di sini, temen-temen belum pada datang. Kebetulan aku lagi pengen coba komposisi deck customku yang baru, bawa deck?"

"Bawa kak!" balasku bersemangat sembari mengambil deck dari tas.

Kak Uta mengeluarkan kotak perak bermekanisme magnet yang bagus dari tasnya. Dia kemudian menunjukkan deck 40 kartu dengan bungkus bergambar Yugi. Super keren sekali.

Gue melihat kotak deck yang gue bawa. Kaleng biskuit warna merah karatan, dengan kartu-kartu tanpa bungkus yang dikaret gelang menjadi satu. Cupu abis. Jadi pengen nangis sebentar.

"Nggak di-sleeve-in kartunya? Sayang lho." timpal kak Uta melihat keadaan nista kartu-kartu gue.

"Eh, apa kak? Diselipin? Diselipin apa?"

"Sleeve. Ini, dibungkus kayak gini. Beli aja di toko." Kak Uta menunjukkan satu kartunya yang terselip rapi lalu menunjuk beberapa selip di kasir.

Masih agak bingung, gue beranjak ke etalase, "Mbak mau selip-selipan dong."

"Oh buat yugioh? Ini, silakan pilih aja." Simbak mengeluarkan beberapa selip, dan mata gue langsung tertuju ke satu selip warna merah nyala yang mengkilap.

"Yang ini berapa Mbak?" tunjuk gue.

"Yang itu lima puluh ribu dek."

Gue tercengang. Mulut ternganga. Lima. Puluh. Ribu.

Bagi mahasiswa dari dusun macam gue. Lima puluh ribu itu bisa dipakai makan nista sepuluh kali, makan lumayan enak enam kali, atau makan super duper enak dua kali. Masa gue harus mengeluarkan segitu cuma buat SELIP!??

Tapi keren. Kilau merahnya ganteng mempesona. Sesuai kepribadian gue. Kayaknya. Ah iya kok bener.

Tapi mahal.

Tapi....

"Oke mbak ambil yang ini." tunjuk gue sambil mengeluarkan uang dan mengambil selip merah itu tanpa ekspresi.

Khukhukhu, dengan ini deck gue akan menjadi cantik rupawan. Gue langsung menyarungkan seluruh kartu dalam deck gue. Deck gue jadi keren. Gue terharu.

"Sip Kak, maaf ya kakak harus nunggu aku nyelipin deck."

"Ngga apa Yud, yuk kita maen!"

"Ayo Kak! DUEL!!"


To be continued

5 komentar:

"Mbak mau selip-selipan dong." -> harusnya kena gampar nih xD

Trivia: jaket Yudhi bertuliskan planet lol(i)ywood... :P

akhirnya bisa komen T_T

*terharu

"Lima puluh ribu itu bisa dipakai makan nista sepuluh kali, makan lumayan enak enam kali, atau makan super duper enak dua kali." -> nasib kita serupa gan. Tapi, inilah spirit sang duelist sejati: rela beli kartu mahal biar harus kelaparan.

Wow, namanya Yudi :v
"Yu-Di-Oh!"?

Mungkin cerita ini bisa jadi inspirasi dan serial Yugi kelima setelah Zexal, tokoh utamanya pny nama Yudi Supono :v

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More