Selasa, 19 November 2013

Florsheim Info : How to be a Kaijin - Part One

Hi guys!

Setelah topik ini dilempar ke publik beberapa hari yang lalu, ternyata banyak yang antusias mengenai sebuah pertanyaan. Pertanyaannya sederhana, "Gimana sih cara join jadi kaijin Florsheim?" Pertanyaan ini seakan menghantui setiap pembaca blog, sehingga kami memutuskan untuk membukanya sekarang. Penasaran? Simak wawancara dari Budi, anggota terbaru kami nomor 23!

Beberapa hari yang lalu, Florsheim Team Indonesia baru saja memiliki saudara, teman dan sahabat baru. Dan dalam beberapa hari ke depan, Florsheim berencana akan merilis member barunya itu ke publik.

Sama seperti perasaan teman-teman yang ada di Florsheim yang antusias, senang dan bahagia saat direkrut dulu, saya juga merasakan perasaan yang sama saat menyambut para member baru. Perasaan senang, gembira dan excited semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Mengenai istilahnya sendiri, ada sedikit perbedaan di antara para member Florsheim sendiri, bagi mereka saat ini Florsheim terbagi menjadi 2 atau 3, yaitu 1st generation yang berisi member-member awal, 2nd generation yang direkrut kemudian dan yang sekarang, 3rd generation. Sedangkan saya hanya melihat 2 klasifikasi saja, yaitu Florsheim dan Florsheim next generation.

Era Florsheim saja adalah era dimana semua membernya memiliki referensi karakter anime Sunred, merupakan sebuah era dimana setiap membernya saling mengenal satu sama lain. Sedangkan era next generation adalah era dimana setiap membernya mungkin tidak memiliki referensi dari Sunred. Dan ciri khas dari era ini adalah mungkin akan banyak wajah-wajah baru yang tidak saya, kamu atau dia kenal.

Saya adalah member ke-23 dan terus terang saya tidak mengetahui bagaimana cara Florsheim merekrut membernya. Apalagi saya adalah member yang direkrut bukan pada saat saya sedang aktif di Yugi. Dan karena itu pula saya memutuskan sepertinya menarik untuk menulis Florsheim Team edisi investigasi, bagaimana sih caranya Florsheim merekrut past membernya? Berikut laporannya.

---------------------------------
No.22 Khalil Mojadidi
---------------------------------

Anak pertama yang akan saya investigasi adalah Khalil Mojadidi yang dikenal sebagai Hyena-nya booster baru. Dengan jaringan informasinya yang luas, dia dapat dengan mudah menentukan dengan pasti berapa banyak foil yang tersisa di setiap boxnya. Tidak bisa tidak, kehadirannya selalu dihubung-hubungkan dengan Alvi secara mereka adalah teman satu SMU.

"Jadi... ada di antara kalian yang bisa mulai bercerita tentang Moja? Bagaimana dia direkrut?" begitulah pertanyaan yang membuka sesi wawancara hari ini, "Anyone?"

"Moja sih anak yang sering nginep di tempat Alvi," celetuk Mbah langsung dari Belanda. Saya tidak menyangka sama sekali jawaban Mbah, bukan A, bukan B, tapi yang diingat pertama kali dari seorang Moja adalah kebiasaannya itu.

"Ngga, gue kayaknya waktu itu direkrut karena skill Dota gue diakui deh," kenang Moja dengan penuh percaya diri tanpa mempedulikan statement dari Mbah.

"Pelengkap main Dota sih Si Moja, makanya dia sering mampir ke markas," jawab Alvi langsung mengklarifikasi pernyataan Moja.

"... dan suka nginep juga di tempatnya Alpi," potong Mbah seakan-akan dia sedang mengingatkan suatu hal yang terpenting dari seorang Moja.

"Sebetulnya bukan karena skill Dota, tapi karena Si Moja itu aktif bersemayam di tempat Alvi," jelas Teddy yang tahu-tahu muncul dari belakang.

"Iya, sering nginep di markas," sahut Mbah, "sering main Dota juga."

Saya memutar-mutar bolpen saya sambil memicing mata saya mencoba untuk memilah-milah info yang disodorkan oleh narasumber. Yang satu bilang alasan utama seorang Moja direkrut karena skill Dota-nya, sedang yang lain mengatakan karena dia sering menginap di tempat Alvi, mungkin saja dua-duanya benar. FYI, kamar Alvi saat itu persis bersebelahan dengan kamar Teddy, jadi misalkan saja yang satu menempelkan gelas ke dinding pasti bisa mendengar apa yang terjadi di kamar sebelah, dan begitu pula sebaliknya.

"Kalian tahu, seluruh info di dalam wawancara ini sifatnya harus otentik loh. O-T-E-N-T-I-K," lanjutku mengingatkan, "ngga boleh ada info yang misleading."

"Deck pertamanya Moja itu adalah deck Moja ya kalo ga salah?" ujar Mbah bernostalgia, "Moja, Earth, Beast, bintang 1 yang punya efek, "When this card is destroyed by battle and sent to the Graveyard, you can add 1 Level 4 Beast-Type monster from your Graveyard to your hand."

"Tak kusangka Mbah jago ngarang," ucap Alvi setengah bercanda yang lalu dilanjut dengan ledakan tawa dari Mbah.

"Kagak, deck DW, mbah," lanjut Teddy mengkoreksi.

"Kalo deck pertama di game sih, rasanya X-saber deh," tebak Babeh ngasal.

"Deck pertama gue Royal Paladin rasanya," jawab Moja.

"Hmmm, mulai dari VG dulu ya kalo Moja," ujar Teddy sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, "betulkah begitu, Vi?"

"Betul, main VG dulu dia, baru Yugi," jawab Alvi mengklarifikasi jawaban Moja sebelumnya. Yah kalo paketannya saja sudah mengklarifikasi info di atas artinya info tersebut sudah 100% benar.

"Tapi saya dengar Florsheim itu grup Yu-Gi-Oh!" tanyaku tidak menyangka kalau untuk menjadi member tidak harus dimulai dari Yugi, atau mungkin jangan-jangan Florsheim itu sebenarnya adalah grup Dota yang menyamar?

"Masuk Florsheim ga usah dari Yugi sih," terang Babeh dengan bijaknya yang kemudian diiyakan oleh semua member Florsheim yang hadir di hari itu. Hmmm... oke, oke, saya mengerti, jadi dari Dota juga bisa masuk ke Florsheim, begitu gumamku sambil mencatat info penting itu di notepad.

"Intinya sih, Moja memiliki kesamaan interest dan sering ngumpul," lanjut Teddy.

"Dan jangan lupa gara-gara gue jago Dota," potong Moja yang tidak mau kalah.

"Moja direkrut soalnya dia udah mulai sepaket dengan Alvi," terang Babeh polos yang kemudian dibalas oleh Alvi, "Gue paketin juga babeh sama Om Ted."

Hahahaha, sekarang saya baru tahu kalau di Florsheim itu ada yang namanya paket-paketan. Wuih... benar-benar info yang sangat menarik nih pikirku dengan antusias sambil terus mencatat.

"Tapi guys," potong Moja, "Sedih juga gue direkrut cuma gara-gara pertemanan dengan Alvi," ujar Moja merajuk.

"Tapi abis itu lu nunjukin skill ama niat lu, Ja," hibur Dean, "I think it's enough."

---------------------------------
No.21 : Ilham Fadhillah
---------------------------------

Di catatan saya, kaijin No.21, Ilham Fadhillah yang memiliki hobby gunpla masih berstatus pelajar di sebuah SMU di Bandung.

"Jadi ada yang bisa menjelaskan perekrutan Ilham?" tanyaku.

"Saya direkrut kabarnya buat menjadi member Combat Goon Project yang sedang direncanakan Florsheim. Yang masuk ke dalam daftar squad ini adalah saya, Mawar*, Melati** dan Kalam, tapi akhirnya cuma Kalam dan saya saja yang masuk," ujar Ilham menjelaskan, " Deket sama Florsheim juga kayanya gara-gara ikut sport sama suka datang ke markas terus. Agak segan dulu bocah SMP main sama kaka-kaka Florsheim, wkwkwkwk."

"Combat Goon Project? Menarik sekali, ada yang bisa diceritakan mengenai Program Combat Goon ini?" tanyaku menyelidik.

"Arlan Gunadi mastermind-nya," jawab Babeh yang kemudian diiyakan oleh Teddy.

"Jadi maksudnya organisasi semacam Florsheim ini saat itu sudah mempekerjakan anak dibawah umur (baca : SMP) sebagai Combat Goon?" tanyaku setengah tidak percaya.

"Kalo ga salah program ini untuk menaikkan skill anak-anak Bandung," jelas Babeh, "Maka dari itu dipilih bibit-bibit yang menjanjikan, khususnya di bagian sikap dan niat."

"Bibit-bibit? Ma-ma-maksudnya program ini adalah program untuk mem-brainwash anak-anak yang masih innocent?" tanyaku terkaget-kaget. Tidak kusangka Florsheim benar-benar sebuah evil organization yang terencana.

"Oh kalo itu sih Ka Arlan yang rencanain. Ceritanya dulu duelist Hobbies ga pada berani main sama Florsheim, dan cuma bocah tengik ini doang yang masih mau main dikalahkan berkali-kali. wkwkwkwk," jelas Ilham sambil tertawa-tawa, "Turney juga dulu masih sedikit yang ikut karena fee dan mental duelist Hobbies yang mikir kalo ikut turney juga ntar kalah sama Florsheim, makanya ngga ada yg pada ikut."

"Jadi agar banyak yang ikut main di turney Hobbies maka Florsheim hanya mengutus Combat Goon saja? I see I see," ujarku sambil meneruskan mencatat.

"Yah kenyataannya emang gitu sih," jelas Teddy, "Sampai-sampai dulu Florsheim sempat di-banned dari turney. Btw, Combat Goon ini ada dibentuk 2 bulanan sebelum Florsheim di banned loh."

"Serius??" tanyaku terkejut. Saya sama sekali tidak menyangka kalo Florsheim punya masa lalu sekelam itu. Di banned dari turnamen? Yang benar saja! Tapi saya tepis dulu segala pikiran buruk yang ada di benak, toh bagaimanapun juga saya harus tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, benar?

"Iya, waktu itu Florsheim di banned dan cuma saya yang boleh ikut turney," jelas Ilham lagi.

"Kenapa dibanned?" tanyaku penasaran, "Apakah karena Florsheim yang terlalu kuat?"

"Bukan," sahut Peter Sebastian, "Tapi karena kehadiran Florsheim selalu membikin anak-anak yang lain takut. Gara-gara ada Florsheim, newbie jadi gak mau main."

"Mereka takut di bully," sambung Belfa, "Masa-masa Combat Goon itu masa-masa susah ikutan turney."

Oke kalau begitu, dari orang ke-2 yang saya investigasi, saya mendapatkan satu info penting lagi yaitu berani main sama Florsheim. Tidak peduli umur kalian, yang penting jika seseorang sudah menunjukkan keberaniannya hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk direkrut.

---------------------------------
No.20 : Kalam Adhiansyah Lutfie
---------------------------------

Kalam, kalam, kalam, mataku menerawang nanar ke sudut langit-langit kamarku. Kalam adalah salah satu dari anak yang diproyeksi sebagai bagian dari Combat Goon. Gosipnya dia menghilang karena sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya yang padat. Selain info itu tidak ada lagi info lain yang kumiliki mengenai si Kalam.

"Kalo ga salah Kalam direkrut karena jidatnya yang lebar dan ada kaijin yang jidatnya juga lebar," celetuk Alvi menjelaskan di tengah-tengah kebuntuan diskusi mengenai Kalam, "believe it or not."

"Hahahaha, jadi kalam direkrut hanya karena jidatnya?" tanyaku lagi. "Ok, selain jidatnya itu, apa yang bisa kalian ceritakan ke saya tentang Kalam?"

"Kribo," sahut Belfa.

Hahahaha, saya sama sekali tidak menyangka jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh member-member lain di malam ini, tampaknya Kalam lebih dikenal dari fisiknya saja.

"Kalam itu referensinya dari Jenderal Arlan," ucap Belfa meluruskan.

"Hmmm, entahlah, saya tidak ingat kalo terlibat. Untuk itu sih kayaknya sesuai cerita Babeh aja dah, "Combat Goon Project" dan Kalam memang memenuhi kriteria-kriteria dari Combat Goon," jelas Teddy, "Dengan kata lain, harusnya mirip-mirip Ilham perekrutannya."

Dan begitulah ceritanya bagaimana topik mengenai Kalam ditutup dengan sangat cepat dan mari kita beralih ke kaijin nomor 19.

---------------------------------
No.19 : Andry Redima Kurniawan
---------------------------------

Berikutnya yang ada di daftar saya adalah Andry Redima. Merupakan salah satu member yang punya nickname terbanyak selain kadar kepo-nya yang jauh di atas rata-rata dari seluruh member yang ada. Dan dengar-dengar waktu joinnya juga berbarengan dengan Ilham dan Kalam, apakah dia juga dipersiapkan sebagai Combat Goon?

"Yang gue inget sih, dia ditawarkan untuk menjadi member dari saat Hobbies masih di Jl. Sultan Agung," lanjut Teddy, "tapi ga langsung diterima. Baru nerima invitation pas di Hobbies Jl. Ranggamalela."

"Andry sih niat main benernya yang luar biasa," celetuk Jerapah kagum, "mentalnya sangat kompetitif."

"Iya, waktu itu Andry, yang waktu itu memiliki code name DiEnd, dan Mawar* sudah diproyeksi buat direkrut ke Florsheim karena mereka berdua adalah segelintir orang yang berani melawan Florsheim," ucap Teddy.

"Berani melawan Florsheim," tulisku pelan-pelan di notepad. Entah mengapa kalimat ini mengingatkan saya pada kasus Guild War di YGOPro beberapa waktu yang lalu. Saya menjadi bertanya-tanya, mungkinkah Florsheim menggunakan event itu sebagai sarana untuk men-scout member baru? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak.

"Jadi maksud kamu Ted, Andry diberikan invitasi sampai 2 kali?" tanyaku untuk memperjelas.

"Rasanya sih sekali, tapi baru di accept saat di Hobbies berada di Jl. Ranggamalela saja," jawab Teddy, "Dan kalo soal Mawar*, rasa-rasanya dia waktu itu memberikan feel yang ditakdirkan untuk melawan kaijin, jadinya dia tidak bisa direkrut."


Bersambung...
Budi

*nama disamarkan
**nama juga disamarkan, terlalu imba

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More