Rabu, 20 November 2013

Florsheim Info : How to be a Kaijin - Part Two


Hi guys!

Menyambung How to be a Kaijin Part One, kali ini kami haturkan Part Two-nya. Sama seperti kemarin, ini adalah kumpulan wawancara mengenai bagaimana sih para Kaijin dulu direkrut, langsung dari orangnya sendiri dan sang perekrut!

Penasaran? Simak artikel dari Budi berikut!

---------------------------------
No.18 : Dicki Setiawan
---------------------------------

"Lanjut di nomor 18 kita punya Dicki Setiawan, dan kabarnya dia adalah pria yang kontroversial, banyak mitos-mitos dan rumor-rumor yang beredar di seputar dirinya," ujarku membaca poin-poin yang sudah disodorkan oleh editorku sebelumnya, "Lalu bagaimana ceritanya dia bisa menjadi member Florsheim?"

"Dicki itu "****"," sahut Alvi nakal, "tapi itu kata Arlan," lanjutnya sambil mengkoreksi pernyataan pertama itu.

"Hmm, sebetulnya topik di atas menarik sekali untuk diangkat tapi susah buat di publish, adakah bahasa yang lebih halus vi?"

"***," lanjut Alvi lagi yang kemudian diikuti oleh gelak tawa Teddy.

"Jadi tidak ada seorang pun anggota Florsheim yang tahu kenapa Dicki direkrut?" tanyaku lebih lanjut.

"Gue bahkan selama sekitar satu bulan ga pernah tau nama aseli Dicki," celetuk Moja kepadaku.

"Loh, jadi anda semua memanggilnya dengan apa jika dalam 1 bulan tidak tahu namanya adalah Dicki?" tanyaku pada mereka. Serious guys, melupakan nama member sendiri selama 1 bulan is way too much.

"****," jawab Moja singkat. Hahahaha, beneran deh di malam itu mereka semua stick pada panggilan "****".

"Asem!" umpat Dicki sopan, "Gue yang terlalu baik waktu itu."

"Bukan salah gue, gue tanya "itu" siapa ke Alvi dan Arlan, dan jawabnya cuma Si ****", belakangan gue jadi tau nama elo berkat owner yang manggil Dicki," jawab Moja membela diri tanpa menunjukkan sedikitpun perasaan bersalah.

"Asem!" umpat Dicki dengan sopan part dua, "lo waktu itu gue anggap orang random yang bangun siang, Ja,"

"Anyway, gue ga tau, yang jelas tiba-tiba Dicki dah masuk aja," lanjut Alvi yang membawa kembali topik pembicaraan ini ke jalurnya yang benar.

"Awalnya gara-gara gue ngajakin anak-anak Hobbies buat main badminton kalo ga salah, dan waktu itu yang merespon ternyata anak-anak Florsheim," jelas Dicki, "Dari situ rutin tiap Sabtu ngumpul di tempat Om Ted atau Alvi."

"Iya, dia jadi deket sama Florsheim gara-gara badminton bareng setiap hari Sabtu pagi," tutur Mbah pada kami.

"Dicki sih direkrut karena bisa dimanfaatkan," canda Jhovie pada Dicki yang diikuti gelak tawa seisi ruangan, "Btw, instead of "****", Dicki lebih terkesan sebagai "Anak Mama"."

"Yang ngajak gue waktu itu Si Arlan, tiba-tiba dia nawarin kaijin Dolgon," sahut Dicki, "Gue sempet nonton Sunred beberapa episode, dan gue ga tau Dolgon berakhir seperti ituu.... Sialan Arlan!"

"LOL, sasuga Arlan." Dan sampai sini saya mendapatkan satu info tambahan yang sangat penting, ternyata Badminton adalah olahraga favorit para kaijin. Jadi tidak ada salahnya juga peribahasa jaman dahulu kala, "Jika hendak merebut hati Kaijin, selalu mulailah dari bulu tangkis."

---------------------------------
No.17 : Peter Sebastian
---------------------------------

Di posisi 17 adalah Peter Sebastian a.k.a Jerapah. Ada yang bisa menceritakan momen perekrutannya?

"Saya tidak ingat apa-apa... oh wait, saya ingat waktu saya masuk, besok paginya jam 3 terbangun kerena duet Teddy dan Babeh, dan ngga bisa tidur lagi," ujar Sang Jerapah.

"Duet?" tanyaku tidak mengerti.

"Itu... dengkurannya," jawab Sang Jerapah.

"Kalo soal Jerapah mah sebenarnya udah dari dulu diketahui kemampuannya. Jadi ga pikir panjang saat merekrut dia," ucap Teddy menjelaskan, "Hanya saja dia di nomor 17 karena sempat menghilang.... sama kaya nomor 23."

"Jerapah ya... bukannya dulu gurita?" tanya Belfa.

"Iya, aslinya Pusogto, kayaknya ada hubungan dengan sdr Kevin yang bergelar hewan satu genus," ucap Babeh, "Peter itu gurita dan Kevin itu cumi-cumi (berdasarkan referensi sunred)."

"Oh, kalau itu saya ingat kenapa nama kaijinnya itu Pusogto alias gurita, itu karena saat perekrutan, kita (gue, Jerapah dan Belfa) sedang makan Takoyaki," kenang Teddy sambil meneteskan air mata haru.

"Anjrit!" seru Belfa, "Benar kata Teddy, masih ingat saja dia!"

"Tapi akhirnya orangnya berevolusi menjadi Jerapah," celetuk Babeh.

Sip, di nomor ini, saya mendapatkan satu info tambahan lagi, skill juga menjadi salah satu bahan pertimbangan perekrutan Florsheim.

---------------------------------
No.16 : Jhovie Anggoro
---------------------------------

Di nomor 16 ada Jhovie Anggoro. Bisa dibilang pria satu ini adalah orang yang memiliki sense of style yang paling ekstrim dari antara seluruh member yang sudah ada, mau potongan rambut belah tengah, belah samping, sikat miring, plontos, atau potongan apa saja tapi penampilan masih tetap oke. Kepercayaan dirinya itu seringkali membuat para pria-pria yang kurang percaya diri dengan penampilan menjadi sirik.

"Jadi ada pengalaman recruitment yang menarik untuk di share kah?" tanyaku kemudian.

"Gue direkrut pas lagi GT," ujar Jhovie berapi-api, "Dan kayaknya rekrutnya juga dadakan, gue punya feeling kalau gue ngga di project sebelumnya untuk jadi member, soalnya pada saat itu gue agak jarang ngobbies, tiba-tiba nongol aja pas Gt, nginep bareng anak-anaknya juga dadakan."

"Oh iya, Jhovie direkrut abis Nats pertama kan?" tanya Babeh, "cuma lupa apakah itu diajaknya di hotel atau pas di ruangan Nats-nya."

"Hmm... saya cuma ingat Jhovie itu mantan HERO yang menantang Florsheim," lanjut Babeh sambil menggaruk-garuk kepala.

"Iya, Nightman!" ujar Belfa.

"Betul," sambung Arlan, "HERO yang kalah dan terlahir kembali sebagai Dark Hero, Nightowl."

Pada saat itulah akhirnya saya mengerti ternyata referensi nama kaijin di episode Sunred memang selalu berhubungan langsung dengan apa yang terjadi dengan member Florsheim di dunia nyata. Kebetulankah? Entahlah, saya tidak tahu.

"Yang ajak Jhovie itu Om Vandy bukan ya?" tanya Babeh, "Linknya Jhovie itu dari Dean kalo ga salah."

"O iya," sahut Teddy, "saat itu yang dapat jatah Hotel cuma Flosheim saja, makanya Jhovie menginap bareng kita di hotel."

"Jhovie sih direkrut gara-gara mau tidur di lantai pas Nats pertama di tengah-tengah AC 20 derajat Celcius," celetuk Dean memotong pernyataan Teddy.

"FYI, all kaijin saat itu tidur di kasur, dan gue yg saat itu belum direkrut tidur di bawah. Sendirian kayak pembantu," ucap Jhovie lirih mengenang masa-masa perekrutannya, "Sedihnya..."

"Lol, sorry Jhov," ucap Teddy tanpa sedikitpun menunjukkan perasaan bersalah.

"Sendirian tidur di bawah, kedinginan dengan AC 18 derajat," ucap Jhovie tidak henti-hentinya merajuk, "Sementara Babeh tidur nyenyak di kasur."

Lol, iya seharusnya orang yang memiliki kadar lemak tertinggilah yang paling tahan dingin. Ckckck, teganya anak-anak Florsheim. Pukpuk Jhovie :D

Jadi apakah tahan dingin merupakan salah satu syarat menjadi member Florsheim? Hmmm, mungkin juga sih secara Florsheim didirikan di Bandung yang dikenal tempatnya dingin dan sejuk :D

---------------------------------
No.15 : Septiyan Saputro
---------------------------------

Septiyan Saputro adalah yang paling misterius dari seluruh member Florsheim. Tidak ada satupun cerita yang bisa saya ungkapkan untuk mendeskripsikan anak yang satu ini. Satu-satunya gosip yang saya punya, kabarnya Septiyan sudah dilirik oleh Khamenman sejak lama, cieeee...

"Ini yang paling cie," sahut Alvi bersemangat.

"I'm back," seru Mbah tiba-tiba dari Belanda sana.

"Lol, pas sekali, lagi membahas cowo lirikannya Mbah ini," ujar Babeh menyambut kedatangan Mbah di chat room ini.

"Soal Septiyan, gue yang promosiin dia," jelas Mbah bangga, "Dia itu sejak sebelom GT juga pas main di Hobbies uda keliatan kok kalo dia mainnya mikir."

"Iya, Septiyan rekomendasi dari kaijin Lvl 99, yang lain langsung takluk tak bisa berkata apa-apa," timpal Babeh.

"Klo septiyan sih dah keliatan, kalem-kalem, trus tiba-tiba menang aja," celetuk Dean.

"Haha, Septiyan. Gue bingung pas pertama datang ke markas terus ketemu dia: "Siapa orang ini? Segitu lamakah gue gak ke hobbies, sampai gue gak tau ada orang seperti ini?" timpal Jhovie.

"Saya juga ga ada saat itu. Cuma tau-tau "Loh? Sejak kapan orang ini ada di Florsheim?" ucap Arlan tidak berapa lama kemudian. Ternyata anak ini benar-benar misterius sampai banyak yang tidak tahu moment perekrutannya.

Saking misteriusnyakah? Atau karena lirikan Mbah? Entahlah, yang jelas tugas saya hanya mencatat saja di hari ini. Oke, jadi kesimpulan yang saya dapat sejauh ini adalah "lirikan". Untuk menjadi member sepertinya seseorang harus dilirik oleh previous member. Geli-geli seram juga dengarnya tapi apa boleh buat, lanjut!!!

... besok.

Bersambung...
Budi

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More