Jumat, 22 November 2013

Florsheim Info : How to be a Kaijin - Part Four (Final)



Hi guys!

Gimana, sudah mulai bosan dengan sejarah Florsheim? Hehe tahan ya, tinggal part ini terakhir kok, makanya agak panjang! Simak ya!

---------------------------------
No.10 : Dean Septian
---------------------------------

Tidak terasa Florsheim edisi investigasi yang baru saja dimulai beberapa hari yang lalu sudah memasuki saat-saat terakhirnya. Tinggal 10 member yang akan diselidiki, dan mari kita mulai dari Si No. 10, Dean Septian. Pengalaman saya yang paling berkesan dengan anak ini terjadi waktu saya masih nge-random, karena bosan saya memutuskan untuk ikut tourney di Hobbies dan berhubung ngga punya deck, saya akhirnya meminjam deck dari Sang T.O. Saat meminjamkan decknya, saya ingat Dean berkata, "kamu mau have fun atau mau menang?"

Tumben-tumbenan saya bertemu seseorang yang memiliki satu frekuensi dengan saya, saya lalu iseng bertanya, "Emangnya kenapa kalau have fun?" dan dia menjawab, "Kalau cuma have fun sih main aja biasa."

FYI, saat kejadian tersebut saya sedang dalam masa-masanya bermain WoW bersama Dajjal dan tidak memiliki akses langsung ke dunia Yugi, bahkan saya hanya tahu Florsheim sebatas nama saja saat itu.

Menarik juga anak ini pikirku, lalu saya menjawab, "Mau menang lah?"

"Oke kalau begitu, begini... pssst, pssst, pssst," ujar Dean sambil membisiki strategi decknya. Saya yang mengetahui awalnya Dean di Hobbies terkejut tidak menyangka dengan perkembangan Dean dan di saat itu pula saya menyadari bahwa ikut serta dalam Florsheim Team Indonesia dapat membawa perubahan positif dalam hidup seseorang.

"Jadi ada yang bisa cerita bagaimana Dean direkrut?" tanyaku sambil bersiap-siap mencatat.

"Awalnya gue dipandang sebelah mata ama duelist hobbies, tapi semua berubah ketika gue menjadi juara Hobis Sultan Agung setelah mengalahkan Belfa, Teddy dan mbah Marcel di final. Setelah itu Belfa terlihat diskusi ama Tedi dan ngedatengin gue. "Lu mau ga join Florsheim?" demikian pernyataan resmi yang keluar dari Dean.

"Ada yang ingat?" tanyaku.

"Hmmm, buat Dean gw malah ga terlalu inget," ujar Babeh.

"Dean ya.. gara2 dia gw tertarik nyoba deck horus lockdown," celetuk Dicki sambil tertawa.

"Yaaah, kalo Horus Lockdown sih gue juga kayanya akan memandang sebelah mata," lanjutku.

"Gue ingetnya Dean itu GB (Gladiator Beast) dan sangat mengacu sama Dajjal," timpal Ridan, "Gue ingat kalau Si Dean pernah ngomong kalau Dajjal itu guru dia."

Ah, orang yang dipanggil dengan sebutan Dajjal. Gue tahu persis anaknya secara gue dan teman-teman WoW lainnya yang menyegel Dajjal dari Yugi, tapi berhubung sekarang segelnya sudah di discontinue, Dajjal akhirnya memutuskan untuk kembali ke Yugi. Okee jadi kalo Dean itu dulunya murid Dajjal sih ya, saya maklum sekarang.

"Lalu balik ke soal dipandang sebelah mata sama anak-anak Hobbies, ada yang ingat kejadiannya?" tanyaku

"Itu mah Deannya aja yang ngaku-ngaku," celetuk Teddy, "saya ga pernah memandang sebelah mata siapa pun. Apalagi kalau decknya itu GB."

"Apalagi gw.. waktu ada Dean gw masih newbie juga," lanjut Babeh.

"Mungkin maksud Dean itu anak Hobis dan bukannya anak Florsheim," ucapku untuk meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi di kala itu.

"Mungkin juga sih, atau kalau Mbah yang mandang, bisa jadi," jawab Teddy.

"Jadi begitu Dean menang lawan 2 orng Florsheim + Mbah di final, dia lalu direkrut? Bagaimana ceritanya?" tanyaku untuk melanjutkan penyelidikan ini.

"Nah, itu yang saya kurang ingat.. berdasarkan pengakuan Dean, saya terlibat dalam perekrutannya.. tapi dalam ingatan saya yang merekrut dia itu Belfa dan Vandy," jawab Teddy.

"Iya gw inget juga Vandy," ujar Ridan.

"Mulai samar-samar inget, Dean diajak Rank Battle ke-2 apa 3 yah?" ujar Babeh sambil mencoba mengingat-ingat kejadian masa lalu, "Orangnya langsung tertarik saat itu juga."

"Kalo dari ingatan gw rank battlenya d jelasin d markas dan gw ingat karena reaksi Dean habis dijelasin rank battle langsung "gw ikut dah" or something like that reaksi instan ga pake pikir," demikian penjelasan dari Babeh.

"Rank Battle? Ini program internalnya Florsheim kan? Menarik juga, saya dengar beberapa calon anggota Florsheim tertarik gabung karena sistem Rank Battle ini. Ada yang bisa menjelaskan soal Rank Battle?" tanyaku lebih lanjut.

"Rank Battle.. ide awalnya berasal dari orang bernama "Budi Hendrawan"" ujar Teddy.

"Hebat banget orang yang bernama "Budi Hendrawan". Idenya cemerlang," sambar Ridan di malam itu.

"Serius Bud, idenya kan dari Anda.. waktu Hobbies masih di I-Cup," jelas Teddy.

"O iya saya ingat sekarang, pas prototype Rank Battle itu saya yang menang karena pake chain burn, lol"

"Ikutan Rank Battle itu tanda resmi masuk Florsheim," jelas Teddy.

"Dean itu 11-12 sama Vandy," lanjut Ridan yang kemudian disahut oleh Teddy, "Iya, sama-sama percaya diri."

"Iya, makanya quote yang terkenal dari Dean : Yang penting keren, menang itu bonus" ujar Ridan menutup topik Dean di sesi interview malam ini.

---------------------------------
No.09 : Muhammad Riandhy Anindika Yudhy
---------------------------------

"Jaman dulu, semua yang ikut Rank Battle itu exclusive member. Saat di hari diadakannya Rank Battle di markas, tiba-tiba ada yang mendobrak masuk dengan otot lengan kanan duluan. Dia tiba-tiba menantang ritual suci Florsheim itu dan tentu saja gagal di duel pertama, atau kedua... saya lupa," cerita Teddy pada kami tentang Si Otot, member nomor 9 Florsheim.

"Pas Rank Battle, Si Otot main pake deck Machina, dan setelah dia dikalahkan ada diskusi perbaikan deck, strategi dan sebagainya. Nah pas saat itulah Jargo resmi bergabung dalam Florsheim," jelas Teddy lebih lanjut.

"Jadi dari nomor 9 ke atas, semuanya ikut karena Rank Battle?" tanyaku menyelidik.

"Ridan kagak sih, tapi lebih karena dekat dengan member yang lain aja," jawab Teddy, "alasan Utha dan Ewik masuk Florsheim juga bukan karena Rank Battle. Kalau Otot sih masuk karena pengen Rank. Sama kayak Vandy (yang ngakunya ga tau kalo dia masuk)."

"Hmmm, I see, jadi Otot satu-satunya member yang masuk bukan karena invitation?" tanyaku untuk memperjelas.

"Vandy juga bukan dari invitation," jawab Teddy, "Walo gue udah berencana rekrut Vandy dari dulu sih. Rank Battle cuma modus semata."

Oke, sampai di sini saya mengerti sekarang. Ternyata ada beberapa member Florsheim yang bergabung bukan karena invitation tapi karena daya tarik Rank Battle yang membuat mereka secara ngga langsung ikutan hangout dan berpartisipasi di markas.

"Jadi kesimpulannya, ada 2 orang member yang bukan direkrut karena invitasi. Yang satu di klaim dan yang satu lagi mendaftar secara halus dengan ikut Rank," tanyaku pada Teddy, "Jadi ibaratnya orang lagi jualan kue dan nawarin sample. Pas orangnya udah ambil satu dan makan, yang jual teriak, "Eh elo dah makan, jadi elo harus beli? Sasuga Florsheim :D"

"Yup, that's sums up everything," ujar Teddy singkat.

---------------------------------
No.08 : Muhamad Eridany
---------------------------------

"Waktu itu aku masih tingkat 1, pertama kali maen di komunitas dan baru tau kalo ada tim Yu-Gi-Oh!. Jaman-jamannya BulJem waktu itu yang suka ngomong "PECUNDANG" ke Legendary Duelist setiap kali dia kalah duel," kenang Ridan, "Dulu si alvi ngajakin gw masuk jadi BABulJem buat, buat apa ya babulgem dulu?"

"Yah, itu mirip-mirip Combat Goon Projectnya Florsheim," jawabku singkat.

"Iya, dan kalo masuk BABUlJem dulu diiming-iming bakal digaji dengan kartu foil. Tapi kemudian, tiba-tiba Om teddy ngajakin masuk Florsheim, dan waktu itu juga sebenernya gak tau Florsheim itu apa sampai dijelaskan dan karena lebih menarik dari pada jadi BABUlJem jadinya gue join deh," lanjut Ridan.

"Digaji kartu foil itu menarik sekali Dan," celetuk gue.

"Kartu foilnya, kartu foil HA," jawab Teddy yang kemudian diikuti oleh gelak tawa yang lain.

"Btw, sekilas info, nama kaijin awalnya dia bukan Ri-Mole lho, tapi Samuel," ujar Teddy.

"Itu Samiel Ted, bukan Samuel," koreksi dari Alvi.

"Samiel? Siapa Samiel?" tanyaku penasaran.

"Itu babunya Hengel," jawab Alvi singkat.

"O IYAAAA," tiba-tiba Babeh berteriak keras sekali, "karena dulu Ridan akrab dengan Belfa yah?"

"Saya jadi penasaran sekarang sama bujukannya Teddy, apa yang membuat bujukannya Teddy jadi lebih maut dari bujukannya BABUljem?" tanyaku menyelidik.

"Nggak ada bujukan juga sih tapi nama Florsheim jauh lebih menarik dari pada nama BABU-lgem waktu itu," jawab Ridan menerangkan kenapa dia sampai memilih Florsheim. Oh ternyata karena alasan itu toh. I see, I see.

"Ngga, masalah "kharisma" itu, Bud," celetuk Teddy tidak mau kalah, yang kemudian diiyakan oleh Ridan.

"Nama Florsheim kurang karismatik dimananya coba? Bandingin dengan BulJem," lanjut Babeh.

"Padahal gue rasa Ridan cocok jadi BABUlJem," curhat Si Mantan Ketua BulJem.

"Tapi klo dipikir-pikir lagi, mungkin karena lebih dekat dengan Hengel, Ridan jadi direkrut. Iya, rasanya gara-gara kharisma Hengel itu," jelas Teddy menghindari topik jebakannya Mantan Ketua BulJem.

"Btw, banyak loh yang jatuh karena kharisma Hengel," celetukku di penghujung interview.

"CIEEEEEE...." teriak Ridan yang paling demen dengan topik-topik semacam ini.

"... seperti contohnya tukang sate sama tukang pijat," ucapku singkat, "Cieeeee.... XD"

(editor's note : credit istilah tukang sate dan tukang pijat : Andry Redima Kurniawan)

---------------------------------
No.07 : Ewik Brewik Barikly
---------------------------------

Di nomor 7 ada Ewik, ada yang bisa cerita soal perekrutan Ewik?

"Ewik mah harus paket sama Utha pembahasannya," celetuk Teddy di awal interview.

"Hmmm, gue gak tau Ewik, tapi yang pasti kesan pas pertama kali gue gabung, dia itu orang paling nyentrik di Floseheim," ujar Ridan.

"Dan duelist yang paling enjoy main Yugi kayaknya," timpal Babeh, "bisa di ajak main berjam-jam dan ketawa2 terus
."

"Dan satu-satunya kaijin yang merokok," kenang Alvi.

Ok, karena di nomor-nomor kecil itu perekrutannya hampir semuanya berbarengan, maka untuk seterusnya ada beberapa interview yang dipaketin. Lanjut ke nomor 6 saja kalau begitu.

---------------------------------
No.06 : Mochamad Pradani Jaya Utama
---------------------------------

"Jadi, untuk nomor 6 ini ada yang bisa cerita?"

"Dahulu saya adalah duelist jalanan yang selalu berduel dengan menggunakan kartu-kartu Counterfeit," demikian pengakuan Utha pada kami, "Apapun jenis decknya saya selalu memasukkan Dark Magician dan Dark Magician Girl. Bangga rasanya kalau bisa men-summon 2 monster itu di field. Saya selalu terinspirasi untuk memasukkan segala macam combo unik dan kreatif ke dalam deck, tidak heran bila pada saat duel banyak orang yang terkejut melihat pilihan kartuku itu.

"Pada suatu hari," lanjut Utha, "Seorang pengguna kartu asli pertama yang kukenal memberitahu kalau ada duelist official di Bandung. Dari dia juga saya baru tahu kalau kartu yang selama ini menemani saya dalam berduel adalah Counterfeit."

Saya lalu datang ke Hobbies dan membeli satu starter deck Yugi dan langsung ikut tourney dengan menggunakan deck itu. Alhasil di pertandingan pertama langsung kalah oleh deck zombienya Teddy. Pada turnamen berikutnya di ITB, saya bertemu kembali dengan Teddy namun sayangnya dia adalah panitia turney sehingga saya tidak dapat bermain melawannya di turnamen. Di turnamen itu saya menempati posisi semi finalist.

Di sana saya bertemu dengan Ewik. Latar belakangnya yang sama-sama berawal dari duelist jalanan membuat kami cepat akrab. Pelan-pelan kami beralih dari duelist Counterfeit menjadi pengguna kartu asli. Kekurangan bahan tidak menjadi penghalang bagi kami, kami saling sharing dan berbagi. Dan di setiap tourney Hobbies, dimana dulu belum ada aturan proxy yang selonggar sekarang, kami berdua selalu sepakat untuk ikut turnamen secara bergantian. Tapi sayangnya belum pernah sekalipun kita mencapai peringkat satu.

Kondisi ini berulang terus menerus, dan seiring berjalannya waktu, kami menjadi sering mampir ke kosannya Teddy. Dan tak lama berselang, di tempat itu saya bertemu dengan seseorang yang saya anggap saingan sepanjang masa. Ketika itu saat saya hendak men-summon kartu andalan dengan suara lantang, "AKU MEMANGGIL DAAAARRKKK MAGICIIAAANN!!"

Dan dia membalas teriakanku itu dengan ucapan, "Tsudoishi negai ga, aratani kagayaku hoshi tonare! Hikari sasu michi tonare! Shinkuro Shoukan! Hishouseyo, Sutadasuto Doragon!" Dan seiring waktu, kami berempat menjadi sering berkumpul dan saat teddy dan Belfa membentuk Florsheim, saya dan Ewik juga ikut bergabung di dalamnya.

"Oh wait," komenku setelah selesai mendengar cerita Utha, "siapa juga orang yang ngomong "Tsudoishi negai ga, aratani kagayaku hoshi tonare! Hikari sasu michi tonare! Shinkuro Shoukan! Hishouseyo, Sutadasuto Doragon!" saat duel?"

"Oh itu General Dodol," timpal Babeh.

"Iya, Hengel itu," jawab Teddy, "Waktu masih muda beliau mengidolakan Yuusei."

"Yusei fanboy dengan nimble momonga dan junk warrior," jelas Babeh.

"Oh jadi itu asal usul Belfa dijadikan rival abadinya Utha," cetusku kagum dengan asal mula persahabatan sekaligus rivalitas dua orang itu. Generasi pertama Yugi versus generasi ketiga.

"Belfa kan mulai berubah gara2 tuntunan seseorang dengan nama Budi Hendrawan," celetuk Teddy yang diiyakan oleh Ridan.

"Belfa berubah gara-gara ditinggal rivalnya, Utha kali, jadi merasa kehilangan dan berubah," begitu pembelaan diriku atas tuduhan Teddy.

"Belfa berubah dari animeish jadi kompetitif," celetuk Alvi.

"Dan juga karena sering main dengan Mbah," tambah Babeh.

"Florsheim juga kalo ditelusuri ke akarnya sih, berasal dari orang bernama Budi Hendrawan," lanjut Teddy.

"Luar biasa orang yang bernama Budi Hendrawan dari luar sudah menggerakkan Florsheim," celetuk Ridan, "gak salah emang dikasih nama monster atap Tenjou."

Oke, oke oke sebelum pembahasannya jadi out of topic, kita simpulkan saja trait khusus seseorang direkrut menjadi kaijin. Berhubung "kosannya" sudah tidak ada lagi, trait khsusus yang membuat seseorang direkrut dari hasil investigasi ini adalah unik dan kreatif dan punya semangat nge-oriin kartu dari fake jadi ori.

"Iya," lanjut Teddy, "Di kala para member yang pada main dengan serius semua, kita butuh penyejuk. Ewik dengan andalannya, Sasuke Samurai dan Utha dengan Dark Magician."

Oh, cuma Ewik dan Utha saja? Belfa sudah bukan penyejuk lagi dong :D
Okeeee, lanjut ke nomor 5!

---------------------------------
No.05 : Vandy Putrandika
---------------------------------

Vandy adalah member Florsheim yang mengikuti banyak TCG. Pertama kali saya ketemu dengan anak ini itu pas jaman-jamannya dia paketan sama Danang. Dan kalau melihat ke belakang, dimana banyak orang ngga tahu apa arti meta, antimeta, atau simplenya, kalau di jaman sekarang 50 persen lebih anak Hobbies tahu siapa itu Billy Brake, etc, anak ini dengan sopannya bawa deck meta ke Hobbies, bukan cuma meta tapi deck yang dia bawa saat itu adalah decknya Evan Vargaz a.k.a. SandTrap. Sedangkan yang tahu siapa itu Evan Vargaz di seantero Hobbies saat itu cuma saya dan dia. Lucu juga rasanya kalau mengingat-ingat masa itu.

Oke, seperti biasa, interview ini dimulai dengan pertanyaan sederhana tentang bagaimana sih kalian direkrut oleh Florsheim, dan jawaban Vandy adalah sebagai berikut :
- Gue kagak tau gue direkrut.
- Tiba-tiba Belfa sama Teddy ngaku-ngaku gue anak Florsheim lol.
- Tiba-tiba gue dapat nickname.

"Vandy salah seorang yang ikut serta the 1st Rank Battle, sudah pasti mau ga mau otomatis jadi member," ucap Teddy singkat, padat dan berisi.

"Ada tambahan cerita menarik soal perekrutan member ke-5 ini?" tanyaku lebih lanjut.

"Yang awal-awal ga banyak tsunderenya," komen Babeh, "semua ditanya : pada ikut? Dan jawabannya : OKEEE."

"Hahahahahah, yang awal-awal main culik aja yah?"

"Ada dong," cetus Teddy, "Jadi gini, Florsheim baru awal kan tuh. Perlu ada expansion. Tapi gue melihat Belfa, vamp dan Babeh, kayaknya ga ada yang bisa diharapkan buat expansion. Nah, karena pertemanan yang cukup lama juga dengan Vandy, gue tau kalo Vandy itu orangnya supel abis. Ini yang dibutuhkan Florsheim saat itu, makanya dibuatlah modus."

I love modus.

"Iya, waktu itu Vandy juga udah punya nama d kancah VW kalo ga salah," ujar Babeh, "tapi ga tau juga apa pertimbangan Om Ted untuk di invite."

"Bukan Beh, bukan karena VW pertimbangan gue," lanjut Teddy menjelaskan, "Btw, sekilas info, Vandy itu orang pertama di Bandung yang mengajak saya maen Yugi Ori. Jadi saya kenal Vandy lebih lama ketimbang yang lain."

"Jadi traitnya Vandy karena dia supel?" tanyaku memperjelas, yang lalu diiyakan oleh Teddy.

---------------------------------
No.04 : Amri Mirza
---------------------------------

Jadi ada yang bisa cerita soal Babeh?

"Versi singkatnya, gue itu cecunguk Om Ted," sambar Babeh.

"Babeh itu suka membuat kombo-kombo original tapi ternyata tidak legal," ujar Ridan.

"Itu karena gue suka skip baca problem solving text, Dan," ujar Babeh membela diri.

"Jangan versi singkat lah Beh, versi panjang coba diceritakan dulu pengalamannya," lanjutku.

Oke, gue cerita deh bagaimana gue masuk Florsheim. Gue mulai main YGO setelah menemukan duelist di pertengahan tahun pertama kuliah. Waktu jaman itu, bisa menemukan duelist itu rasanya sama seperti menemukan unicorn. Dan unicorn yang satu ini namanya Teddy.

Begitu tahu ada lawan main, gue jadi semangat. Dari situ gue mulai menjadi DDR di Hobbies Sultan Agung. Deck pertama gue dulu deck Gadget, karena terpengaruh kata-kata duelist di sana (yang gue lupa entah siapa) yang bilang decknya kuat. Gue sendiri merasa Machine is COOL!!

Setelah punya deck sendiri, gue pun mulai jadi lawan tanding (lebih tepatnya korban bully) dari sdr Teddy. Karena sering di bully ini juga gue mulai meninggalkan deck gadget dan beralih membuat deck baru. Dan karena budget yang dimiliki mahasiswa impian ini cukup jauh, makanya gue memulai dengan meminjam / print kartu dan tentunya target meminjam adalah dari Si Tukang Bully tadi.

Dari sering ngumpul, diskusi dan hang out bareng Teddy, gue mulai bertemu para kaijin generasi awal. Dan saat dimulai Rank Battle pertama yang menjadi prequisit awal masuk Florsheim, gue kebetulan ada di TKP sehingga Florsheim yang masih seumuran jagung ini pun mengajak gue yang bisa dibilang cupu untuk bergabung. Tanpa pikir panjang langsung gue accept saja tawaran itu, karena pada saat itu Florsheim terlihat seru (dan sampai sekarang masih kok).

"Panjang memang cerita Babeh di atas, ada tambahan info mengenai perekrutan Babeh?" tanyaku pada anak-anak Florsheim lainnya di ruangan ini.

"Oh babeh itu juga modus lagi sih dari gue," lanjut Teddy, "bahkan sebenarnya semua big 5 itu modus gue. Ga ada yang tau kan?"

"Ga ada," kompak semua orang yang ada di ruangan berteriak terkejut. Gile bener, setelah sekian tahun akhirnya kebenaranpun terkuak. I love modus.

"Gue cerita langsung aja nih?" tanya Teddy mengkonfirmasi karena ia tahu setelah modus itu terkuat wawancara ini pun selesai, dan setelah semua orang mengiyakan ia lalu melanjutkan penjelasaannya, "Vandy itu gue perlukan buat expansion. Babeh itu gue perlukan buat sandsack, eh maksud gue lawan sparring. Vamp itu gue perlukan buat sumber info. Belfa itu gue perlukan buat hal-hal lain seperti forum, design, dsb."

"Ja-ja-ja-di klo ga ada faktor belfa itu anda sudah combo maut dengan Alvi saat beli koleksi Abi?" tanyaku tidak percaya dengan kenyataan di atas.

"Ga bisa juga sih combo maut dengan Alvi," jelas Teddy, "Alvi itu soloer waktu itu, mana mau dia share. O iya, Belfa sih yang paling deket setelah Babeh waktu itu, Vandy juga rada-rada soloer."

"Gue juga waktu itu ngesolo aja," celetuk Mbah tiba-tiba.

"Noobi kaya aing jadi samsak T3T," gerutu Babeh di pojokan, masih setengah tidak percaya dengan statusnya itu.

"Gue waktu itu ga bisa karena blom bermodal, deck aja minjem," ujar Babeh setelah lebih tenang.

"Nah, salah satu tujuan awal dibentuknya tim juga itu, karena cardpool anak Bandung kalah jauh, makanya Mbah datang langsung bully-bully," ujar Teddy, "karena Babeh itu cuma masalah blom ada modal waktu itu, dari hal-hal laennya sih dia semangat banget makanya kita bantu."

---------------------------------
No.03 : Arlan Gunadi
---------------------------------

"Arlan Gunadi?" tanyaku memulai percakapan.

"Seperti yang sudah dibilang di atas, sumber info," ujar Teddy, "Dan juga karena sepaket dengan Belfa sih."

"Arlan lumayan megang di forum dulu," tambah Ridan, "Sama kaya Belfa."

"Selain karena dimaksudkan sebagai sumber info, apakah karena sering maen ke kosan juga?" tanyaku lebih lanjut lagi.

"Si Belfa yang initiative ngajak kalo ga salah," jawab Teddy.

"Oh, yang waktu cerita buka brankas itu bukan?"

"Yang gue inget sih, malam itu gue sama Belfa doang yang buka brankasnya," jawab Teddy, "Si Vamp baru ikut datang di hari berikutnya. Yah begitulah, awal-awal Florsheim mah ga banyak cerita, emang baru dikit juga orang-orangnya."

Okeee, kalau gitu kita lanjut ke nomor 2? Belfa N. Wijendra!

---------------------------------
No.02 : Belfa Noveli Wijendra
---------------------------------

"Belfa sama gue sama lah ya," ucap Teddy mengawali sesi interview ini.

"Sama, sudah ada pula kan di sectionnya sejarah Florsheim," sahutku, "Asyik. Beres dong."

Dan begitulah akhir dari segmen Florsheim Team Indonesia edisi investigasi, kilas balik dari sejarah panjang perekrutan para kaijin. Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dapat menjadi bagian dari Team yang luar biasa ini. Dari Markas Florsheim, saya melaporkan.

*the end

...

"Itu Bud," celetuk Teddy saat saya hendak membubarkan chat room.

"Heh apaan?"

"Itu.... segmen after credit," ujar Teddy mengingatkan.

ah iya, XD

---------------------------------
No.01 : Teddy Swastiadi Ambaryanto
---------------------------------

"FLORSHEIM? WHAT IS FLORSHEIM?"

There was an idea..
Belfa, knows this.. called the Florsheim initiative..
the idea is to bring together a group of remarkable people..
to see if they can become something more..
to see if they can work together when we needed them to.. to fight the battle we never could..
Habibie retired still believing in that idea..
of Kaijins.


Salam,
Budi dan segenap kaijin Florsheim

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More