Jumat, 20 Desember 2013

Florsheim Story Chapter Two : Gunthur yang Mengejutkan - Part One



Petir menyambar. Lagi. Di luar sungguh gelap menerawang meski belum sampai fase gerimis. Cuaca mendung tidak menentu beberapa hari terakhir ini berkorelasi positif dengan tingkat kemalasan gue pergi kuliah.

Meski begitu, anehnya gue malah makin semangat pergi berduel. Kemarin saja hujan deras tetap gue jabanin pakai jas hujan. Apa coba hubungannya semangat duel sama hujan?

Gue memakai jaket parasut merah gue dan menangkupkan tudungnya. Gigi gue bergemeletuk menggigil, menimbulkan suara khas yang bisa jadi cukup keras hingga terdengar orang lain. Gue mencoba menghangatkan lengan dengan melipat tangan, mendingan, namun sangat tidak cukup membendung suhu Bandung di kala mendung. Gue pun memakai sepatu kets gue seadanya tanpa mengikat ulang talinya dan bergegas pergi keluar kosan membawa tas berisi deck kesayangan gue.

Tanpa terasa sudah sekitar satu tahun sejak gue pindah ke Bandung. Banyak hal berubah hanya dalam setahun ini. Mulai dari cara bermain gue, deck gue, teman-teman baru gue, bahkan lokasi Hobbies pun sudah berganti minimal dua kali.

Gue selalu berusaha ikut turnamen disini, walaupun yaa, hampir tidak pernah juara. Turnamen entah mengapa bisa membuat gue bersemangat. Melawan kawan-kawan duelist di suasana yang lebih serius benar-benar menggairahkan. Membuat gue belajar banyak dan introspeksi atas misplay gue. Beda jauh banget lah dibanding cuma main biasa. Buat apa coba punya deck kalau nggak ikut turnamen?

Hmm, jadi ingat dulu. Gue pernah "main biasa" yang membuat darah bergejolak. Ya, waktu melawan kak Utha. Sosok misterius yang tidak pernah kelihatan lagi sejak hari itu. Gue bertanya pada rekan-rekan Florsheimnya pun mereka bingung kak Utha sudah menghilang kemana. Ia lenyap tanpa jejak. Seakan diculik alien ke planet antah berantah.

Kapan ya gue bisa melawan kak Utha lagi? Gue ingin tunjukkan kalau gue sudah banyak belajar.

Rintik hujan jatuh mengenai pipi gue. Membuat gue tersadar dari sekilas nostalgia barusan. Perasaan gue tiba-tiba nggak enak. Gue menengadah, Baltos sudah terlihat dari sini. Gue pun mempercepat langkah setengah berlari agar tidak kehujanan.

***

Apaaaa!? Kenapa di Hobbies kosong melompong tidak ada orang selain simbak penjaga?

"Karena hujan kali a'..." jawab simbak penjaga sekenanya.

Gue melirik ke arah arloji. Aneh sekali jam segini tidak ada orang. Tapi yah mau bagaimana lagi? Simbak juga tidak bisa membantu mencarikan gue lawan berduel. Gue hanya bisa menghela napas panjang sambil berjalan keluar toko melampiaskan kekesalan ini.

Gue bisa maklum sih. Di luar petir semakin menggila dan hujan turun seakan bendungan air di awan jebol akibat kelebihan muatan. Angin bertiup sungguh keras, gue bahkan bisa melihat ada pohon yang tumbang dan papan reklame yang rusak diterpa angin.

Sepertinya gue terisolir sekarang. Tidak bisa pulang dan tanpa teman berduel...

Puk. Ada sebuah tepukan lembut di bahu gue, tak ayal gue menengok. Ternyata yang menepuk barusan adalah seorang cowok. Yah, cowok.

"Mas main Yughi? Dhuel yuk." ujarnya sopan dengan menunduk-nunduk. Logat jawanya terdengar khas karena medok sayangnya agak tersamarkan oleh suara hujan di luar saking lembut suaranya.

Gue mengernyitkan dahi. Seumur-umur nongkrong di Hobbies gue belum pernah melihat orang ini. Wajahnya adem menyejukkan berbentuk elips. Kulitnya coklat muda, khas pribumi Indonesia. Ia memakai kaos oblong coklat yang lebih gelap dengan double deckbox hitam yang ia genggam tanpa tas.

"Oh oke... Kamu baru yah disini? Rasanya baru lihat." Teriak gue agak keras. Berusaha menandingi guruh yang makin membahana. Gue beranjak menuju meja duel terdekat. Ia pun duduk mengikuti.

"Iya mas. Aku kebhetulan laghi dholan ke mBandhung." tandasnya, masih dengan logat kentara yang bikin gue menahan tawa.

"Pfft... Oh... Hehe... Kenalkan, gue Yudi."

"Gunthur Mas, Bani Gunthur. Tapi panggil aja aku Gunthur." balasnya sopan.

"Oke suuuit!" Kami sama-sama mengayunkan tangan. Gue mengeluarkan batu, tanpa berpikir, dan Gunthur menunjukkan kertas. Dammit kau tangan Doraemon!

"Ah kalah. Duluan Thur?" tawarku. Kami saling mengocok deck lawan sekenanya, lalu mengembalikannya.

"Iya mas. Draw!" Gunthur mengambil 6 kartu dan langsung membuang Thunder Sea Horse dari hand-nya ke Graveyard, "Efek Thunder Sea Horse, ambil dua Sishunder. Normal Summon Sishunder banish Thunder Sea Horse. Set satu belakang. End turn, aku ambil Thunder Sea Horse dari Banished Zone."


Wow, deck Hunder! Baru saja giliran pertama dan ia sudah memiliki total DELAPAN kartu di field dan hand-nya. Hehe, sepertinya orang ini menarik. Rasa gloomy yang melanda sejak tadi pagi mendadak sirna di permulaan duel ini. Sebuah senyum mungil muncul di wajah gue tanpa gue perintahkan. Ini akan menyenangkan.

"Oke, sekarang giliranku! DRAW!!"


Bersambung ke Part Two...

2 komentar:

tempat duelnya didaerah mana dan tempat apa,ane subang

Ini nih yg kutunggu... Cerita yg menginspirasi...
Btw kalo menurut saya sih hunder vs fire king sih susah menangx, XD

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More